Pentingnya Etika dalam Tindakan Aparat
Aparat keamanan memiliki tugas menjaga ketertiban dan melindungi masyarakat. Namun, setiap tindakan aparat harus selalu mematuhi hukum dan etika. Tanpa etika, tindakan represif justru berubah menjadi bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Oleh karena itu, aparat wajib mengutamakan proporsionalitas, legalitas, dan akuntabilitas dalam setiap langkah.
Selain itu, etika menuntut aparat untuk memilih cara yang paling ringan sebelum menggunakan kekerasan. Aparat seharusnya memprioritaskan dialog dan pencegahan, bukan langsung melakukan tindakan yang berpotensi menimbulkan korban jiwa.
Kasus Affan Kurniawan: Driver Gojek yang Tewas Terlindas Rantis Brimob
Perdebatan tentang etika aparat semakin mencuat setelah insiden tragis pada 28 Agustus 2025. Seorang driver Gojek bernama Affan Kurniawan meninggal dunia setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.
Menurut saksi, Affan tergelincir saat menyeberang jalan di tengah kericuhan. Rantis Brimob yang melaju kencang menabraknya. Kendaraan tersebut sempat berhenti, tetapi kemudian melaju kembali dan melindas tubuh Affan. Akibatnya, korban mengalami luka berat dan meninggal meski sempat dibawa ke RSCM.
Peristiwa ini memicu gelombang protes masyarakat. Tagar #JusticeForAffan viral di media sosial. Banyak pihak menilai tindakan aparat tersebut tidak proporsional dan melanggar etika kemanusiaan.
Reaksi Publik dan Tindak Lanjut Hukum
Kasus ini memunculkan kemarahan publik. Komnas HAM mengecam keras peristiwa tersebut dan menegaskan bahwa tindakan aparat tidak dapat dibenarkan. Selain itu, Ketua DPR Puan Maharani meminta investigasi dilakukan secara transparan.
Di sisi lain, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada keluarga korban. Ia juga memerintahkan Propam Polri untuk memeriksa tujuh anggota Brimob yang terlibat. Langkah ini menjadi bentuk awal akuntabilitas, meski publik tetap menuntut keadilan yang nyata.
Dampak Tindakan Represif Tanpa Etika
Tindakan represif yang mengabaikan etika membawa konsekuensi serius. Pertama, masyarakat kehilangan rasa percaya pada institusi hukum. Kedua, citra aparat menjadi rusak karena dianggap lebih menakutkan daripada melindungi. Akibatnya, legitimasi negara dalam menjaga keamanan publik ikut melemah.
Oleh karena itu, aparat harus memastikan setiap penggunaan kekuatan sesuai prosedur. Dengan begitu, keamanan tetap terjaga dan hak warga tetap terlindungi.
Peran Pengawasan dan Akuntabilitas
Untuk mencegah peristiwa serupa, pengawasan menjadi sangat penting. Aparat harus tunduk pada:
- Kontrol internal melalui Propam.
- Pengawasan eksternal oleh lembaga independen seperti Komnas HAM.
- Transparansi informasi kepada publik.
Selain itu, pemerintah harus memperkuat standar operasional prosedur (SOP) agar aparat memiliki pedoman jelas dalam menangani unjuk rasa atau situasi darurat.
Kesimpulan
Kasus meninggalnya Affan Kurniawan menunjukkan bahwa etika aparat bukan sekadar formalitas, tetapi kebutuhan nyata. Aparat harus bertindak secara proporsional, transparan, dan manusiawi. Pada akhirnya, menjaga keamanan tidak boleh mengorbankan nyawa rakyat.
Etika dalam tindakan represif aparat adalah kunci untuk membangun kepercayaan publik, menjaga martabat manusia, dan memastikan hukum benar-benar menjadi pelindung, bukan alat penindasan.
